Definisi perilaku Pola Hidup Konsumtif

Definisi perilaku Pola Hidup Konsumtif

Kata “konsumtif” (sebagai kata sifat; lihat akhiran –if) sering diartikan sama dengan kata “konsumerisme”. Padahal kata yang terakhir ini mengacu pada segala sesuatu yang berhubungan dengan konsumen. Sedangkan konsumtif lebih khusus menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal.
Memang belum ada definisi yang memuaskan tentang kata konsumtif ini. Namun konsumtif biasanya digunakan untuk menunjuk pada perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok. Misalnya sebagai ilustrasi, seseorang memiliki penghasilan 500 ribu rupiah. Ia membelanjakan 400 ribu rupiah dalam waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Sisa 100 ribu ia belanjakan sepasang sepatu karena sepatu yang dimilikinya untuk bekerja sudah rusak. Dalam hal ini orang tadi belum disebut berperilaku konsumtif. Tapi apabila ia belanjakan untuk sepatu yang sebenarnya tidak ia butuhkan (apalagi ia membeli sepatu 200 ribu dengan kartu kredit), maka ia dapat disebut berperilaku konsumtif. Contoh ini relatif mudah untuk menentukan apakah seseorang telah berperilaku konsumtif atau tidak. Tapi coba bayangkan seseorang yang memiliki penghasilan 1 juta, untuk memenuhi kebutuhan pokoknya 400 ribu, dan 300 ribudigunakan untuk membeli barang yang tidak dia butuhkan, sedang sisanya digunakan untk menambah modalnya dalam usaha. Apakah ia dapat digolongkan berperilaku konsumtif?

Pola hidup konsumtif sudah mengakar di budaya bangsa Indonesia, sehingga tak mengenal tua-muda, tak mengenal kaya-miskin, keinginan untuk hidup “wah” secara merata hinggap di pikiran kita. Tentu ada pengecualian bagi segelintir orang, namun pada umumnya ya begitulah. Keinginan memiliki benda-benda pemuas panca indra yang berdampak pada bertambahnya kebutuhan energi, kian meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan per-kapita. Pendapatan mestinya tidak dihabiskan untuk keperluan konsumtif, tetapi disisihkan sebahagian untuk tabungan. Tabungan akan bermanfaat untuk keperluan investasi, dan kemudian akan bisa digunakan untuk usaha-usaha produktif. Yang terjadi di kebanyakan orang Indonesia dewasa ini, pendapatannya bahkan minus untuk keperluan konsumtif, karena kemudahan memperoleh benda-benda dengan pembelian kredit, leasing, dll.
Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial bagi negara-negara industri dalam melemparkan hasil-hasil produksi, mulai dari HP, sepeda motor, mobil, alat-alat listrik keperluan rumah tangga dan entertainment. Negara ini yang masih dalam klasifikasi “developing country” mestinya menggiatkan saving dan investment, bukannya “mendidik” warga untuk berlomba-lomba mengkonsumsi dengan lahap segala bentuk produk baru yang diiklankan melalui TV, Media, Salesman. Jika tidak ditanggulangi, generasi demi generasi bangsa Indonesia akan terjebak dalam dilema yang makin memelaratkan.

Perilaku lonsumtif masyarakat pada dasarnya terbentuk ketika remaja yang kemudian terbawa hingga dewasa. Perilaku konsumtif pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila melihat usia remaja sebagai usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang “tren”. Remaja dalam perkembangan kognitif dan emosinya masih memandang bahwa atribut yang superfisial itu sama penting (bahkan lebih penting) dengan substansi. Apa yang dikenakan oleh seorang artis yang menjadi idola para remaja menjadi lebih penting (untuk ditiru) dibandingkan dengan kerja keras dan usaha yang dilakukan artis idolanya itu untuk sampai pada kepopulerannya.

Apakah perilaku pola hidup konsumtif sesuai dengan pancasila?

Sesungguhnya perilaku hidup konsumsi memiliki banyak dampak negatifnya dari pada dampak positifnya. Dampak negative dari perilaku pola hidup konsumtif terjadinya pada seseorang yang tidak memiliki keseimbangan antara pendapatan dengan pengeluaranya (boros). Dalam hal ini, perilaku tadi telah menimbulkan masalah ekonomi pada keluarganya. Dampak yang lebih parah lagi jika pemenuhannya menggunakan cara yang tidak benar missal korupsi,dan tindak pidanan lainnya.
Dari penjelasan diatas maka dapat kita bandingkan dengan isi yang terkandung dalam butir-butir pancasila. Dalam butir-butir pancasila yaitu sila “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” butir ke 7 yang berbunyi “Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah”. Pancasila sebagai ideology bangsa telah menyaring pegaruh yang berasal yang dari luar. Pancasila telah melarang kita untuk hidup bermewah-mewahan dan boros atau yang sering kita sebut dengan perilaku konsumtif karena dapat menimbulkan banyak dampak negative seperti yang telah disebutkan pada penjelasan sebelumnya.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: